Kisah Lengkap Pemandian Jenazah Rasulullah SAW
Setelah Rasulullah SAW wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, kesedihan mendalam menyelimuti Madinah. Proses pengurusan jenazah beliau baru dilakukan pada hari Selasa karena para sahabat sempat disibukkan dengan urusan suksesi kepemimpinan demi menjaga persatuan umat.
1. Para Petugas Pemandian Sesuai dengan adat dan wasiat tersirat, yang berhak memandikan jenazah adalah keluarga terdekat (Ahlul Bait). Mereka yang terlibat adalah:
Ali bin Abi Thalib: Orang yang mendekapр dan memangku jasad Nabi ke dadanya. Al-Abbas bin Abdul Muthalib dan kedua
putranya, Al-Fadhl dan Qutham: Bertugas membantu membolak-balikkan jasad Nabi. Usamah bin Zaid dan Syuqran (maula Nabi): Bertugas menuangkan air.Aus bin Khauli: Seorang sahabat dari kaum Anshar yang memohon dengan sangat agar kaum Anshar diwakili, akhirnya diizinkan Ali untuk masuk membawa air.
2. Suara Misterius dari Langit
Saat hendak memulai, para sahabat diliputi keraguan. Mereka bertanya-tanya, "Apakah kita harus menanggalkan pakaian Rasulullah sebagaimana kita menanggalkan pakaian jenazah kita, ataukah kita mandikan beliau dengan pakaiannya?"
Seketika itu, Allah SWT menurunkan rasa kantuk yang luar biasa hingga dagu mereka rapat ke dada (tertidur). Dalam keadaan tersebut, terdengar suara seseorang dari sudut rumah (suara tanpa rupa) yang berseru:
"Mandikanlah Nabi dalam keadaan mengenakan pakaiannya!"
Para sahabat pun terbangun dan segera melaksanakan perintah tersebut.
Mereka memandikan beliau dengan tetap mengenakan gamisnya. Air dituangkan di atas baju kurung itu dan mereka menggosok jasad beliau dengan tangan di balik baju tersebut.3. Keajaiban dan Keistimewaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang memimpin proses tersebut, tertegun karena tidak mendapati tanda-tanda kematian yang biasa terlihat pada manusia. Beliau berkata: "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, betapa wanginya engkau saat hidup maupun saat mati."
Tubuh Rasulullah SAW mengeluarkan aroma harum yang sangat kuat. Selain itu, jasad beliau sangat ringan dan mudah digerakkan, seolah-olah ada kekuatan yang membantu para sahabat saat membolak-balikkan tubuh beliau.
4. Air dan Pengafanan Air yang digunakan untuk memandikan beliau berasal dari Sumur Ghars di Quba, sesuai dengan wasiat beliau: "Jika aku mati, mandikanlah aku dengan tujuh qirbah (wadah air) dari sumurku, Sumur Ghars."
Setelah selesai, jenazah beliau dikafani dengan tiga helai kain putih bersih dari bahan katun (Suhuliyah) tanpa menyertakan baju maupun sorban.Sumber Referensi
Kisah di atas bersumber dari kitab-kitab sejarah dan hadis yang diakui keabsahannya:
Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam: Merupakan rujukan paling klasik mengenai detail kehidupan dan wafatnya Nabi.
Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Safiyyu Rahman Al-Mubarakfuri: Kitab sejarah kontemporer yang memenangkan kompetisi penulisan sirah internasional.
Sunan Abu Dawud (Hadis No. 3141): Mengenai detail suara dari langit yang memerintahkan memandikan Nabi dengan pakaiannya.
Musnad Ahmad: Mengenai kesaksian Ali bin Abi Thalib tentang harumnya jasad Nabi.
#Sejarahlslam #NabiMuhammad #Rasulullah #SejarahDunia #KisahNabi

Comments