kisah nabi ibrohim


Nabi Ibrahim 'alaihissalam tumbuh di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Patung-patung besar memenuhi kuil mereka, sementara sang ayah, Azar, adalah pembuat berhala. Sejak muda, Allah memberinya akal tajam dan hati yang bersih. la menolak menyembah benda mati yang tidak bisa mendengar, melihat, atau memberi manfaat.


1. Dialog Nabi Ibrahim dengan kaumnya


Nabi Ibrahim mengajak kaumnya dengan penuh hikmah:


> "Apa yang kalian sembah itu?"

Mereka menjawab:

"Berhala-berhala, dan kami selalu tekun menyembahnya."

Ibrahim berkata:

"Apakah mereka mendengar kalian atau memberi manfaat?"

Mereka diam. (QS Ash-Shaffat:85-92)


Kaum itu marah karena Nabi Ibrahim menghinakan sesembahan mereka.


2. Penghancuran berhala


Saat suatu hari mereka pergi ke pesta besar, Nabi Ibrahim masuk ke kuil dan menghancurkan semua berhala, kecuali patung terbesar. Kapak diletakkan pada berhala besar itu, sebagai hujjah kepada kaumnya.


Ketika mereka kembali, mereka terkejut melihat berhala-berhala hancur.


> "Siapa yang melakukan ini?"

Mereka berkata: "Kami dengar seorang pemuda bernama Ibrahim berbicara tentang berhala ini."

(QS Al-Anbiya:59-60)


Nabi Ibrahim dipanggil dan ditanya. la menjawab dengan sindiran tajam:


> "Tanyakan saja pada berhala besar ini, jika ia bisa berbicara." (QS Al-Anbiya:63)


Mereka terdiam dalil itu mematahkan mereka, namun keangkuhan membuat mereka tetap menolak kebenaran.


3. Kaum itu menyalakan api raksasa


Karena amarah, mereka memutuskan untuk menghukum Ibrahim dengan cara paling kejam.


> "Bakarlah dia, dan tolonglah tuhan-tuhan kalian!" (QS Al-Anbiya:68)


Riwayat menyebutkan mereka menyalakan api selama berhari-hari hingga panasnya tak dapat didekati manusia. Saking besar dan hebatnya api itu, mereka tidak mampu melempar Ibrahim dengan tangan maka dibuatlah sebuah manjaniq (alat pelontar).


Ketika Nabi Ibrahim hendak dilempar, ia membaca:


> "Hasbunallaahu wa ni'mal wakiil."


"Cukuplah Allah sebagai Penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung." (HR. Bukhari)


4. Api itu menjadi dingin


Saat Nabi Ibrahim dilempar dan tubuhnya jatuh ke tengah kobaran api, Allah berfirman:


> "Wahai api, jadilah engkau dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim!" (QS Al-Anbiya:69)


Api yang membakar kayu-kayu besar itu sama sekali tidak menyentuh Ibrahim.


Tidak panas.

Tidak melukai.

Tidak menyakiti.


Api berubah menjadi pelindung atas perintah Rabb semesta alam.


5. Nabi Ibrahim keluar tanpa luka


Ketika api mulai padam, semua orang tercengang. Ibrahim keluar tanpa luka sedikit pun, wajahnya tenang, pakaiannya utuh.


Inilah bukti kebesaran Allah. Inilah tanda bahwa kebenaran akan selalu menang meski seluruh dunia bersatu menentangnya.


Pelajaran dari kisah ini


1. Tauhid adalah kebenaran yang tak bisa dipadamkan.


2. Allah menolong hamba yang bertawakkal sepenuhnya.


3. Kesombongan bisa menutup mata dari bukti kebenaran.


4. Musibah terbesar sekalipun akan menjadi rahmat jika Allah menghendaki.

Comments

Popular posts from this blog

Warga Korea, Nasser Seung, meresmikan masjid pertama di Pulau Jeju.

Kisah Rasulullah ï·º dan Tawaran Gunung Emas

Sepenggal kisah habib empang bogor.